Lompat ke konten

Undangan Digital Adat Sunda

Jawa Barat — Tanah Pasundan

Hitam-putih-merah khas Sunda, dengan batik Garutan berkrem gumading dan mega mendung Cirebon — lembut tapi berkarakter kuat.

14 templateGarutanMega MendungMotif Mega MendungMotif Batik CapMotif Kawung

Kujang & Mega Mendung

Sampurasun— 'Sampurasun' dijawab 'Rampes', sering dilanjutkan 'Mugia Rahayu Sagung Dumadi'; untuk menyambut tamu dipakai 'Wilujeng sumping'.

Hitam-putih-merah khas Sunda, dengan batik Garutan berkrem gumading dan mega mendung Cirebon — lembut tapi berkarakter kuat.

Busana adat

Kebaya Sunda (brokat panjang, lazim putih) · Siger Sunda — mahkota logam melengkung di dahi · Beskap Sunda + bendo (tanpa mondolan) · Kain batik Jawa Barat (Sido Mukti, lereng eneng prada) · Variasi Sukapura dan Sunda Siger (jas tutup)

Iringan

Kacapi suling (laras degung) · Rampak kendang penyambutan tamu · Kidung sawer — tembang nasihat

Tekstil khas

Batik Garutan · Batik Priangan · Kain tenun Sunda

Elemen visual

Kujang · Kebaya Sunda · Sanggul gelung · Sawer

Doa & restu adat Sunda

Dipakai sebagai kutipan awal undangan bertema budaya ini — sesuai keyakinan Islam.

  • Silih asah, silih asih, silih asuh.

    Adat · Pepatah Sunda

    Saling menajamkan (ilmu), saling mengasihi, dan saling mengasuh.

  • Barakallahu laka wa baraka 'alaika wa jama'a bainakuma fi khair.

    Doa · HR. Abu Dawud — doa restu untuk pengantin

    Semoga Allah memberkahimu, melimpahkan berkah atasmu, dan menyatukan kalian berdua dalam kebaikan.

Rangkaian adat Sunda

14 tahap dari riset bersumber (6 sumber) — urutan ini yang dipakai di undangan.

Pra-acara

  1. 1.Neundeun omong

    Perwakilan keluarga pria menelusuri status calon pengantin perempuan, lalu membuka pembicaraan serius hingga ada persetujuan kedua keluarga.

    Dipimpin: Perwakilan keluarga pria

  2. 2.Narosan

    Lamaran resmi: orang tua calon pengantin pria datang bersama keluarga terdekat sambil membawa barang-barang.

    Dipimpin: Orang tua calon pengantin pria

  3. 3.Seserahan

    Pihak pria menyerahkan barang kebutuhan calon pengantin perempuan berupa pakaian, makanan, dan uang; pihak perempuan memberi balasan.

    Dipimpin: Kedua keluarga

  4. 4.Ngecangkeun aisan

    Dilaksanakan menjelang acara resepsi di kediaman calon pengantin perempuan, sebagai simbol lepasnya tanggung jawab kedua orang tua.

    Dipimpin: Keluarga

  5. 5.Ngaras

    Calon pengantin membasuh kedua telapak kaki orang tua sebagai tanda bakti.

    Dipimpin: Calon pengantin

  6. 6.Siraman

    Memandikan calon pengantin perempuan dengan air bunga tujuh rupa; simbol bahwa rumah tangga yang suci diawali tubuh dan niat yang suci.

    Dipimpin: Tidak dirinci dalam sumber

  7. 7.Ngerik

    Mengerik bulu halus di sekitar wajah calon pengantin perempuan agar hasil riasan rapi.

    Dipimpin: Tidak dirinci dalam sumber

  8. 8.Ngeuyeuk seureuh

    Malam sebelum akad di rumah orang tua pengantin perempuan. Calon mempelai meminta izin dan restu, lalu orang tua memberi nasihat melalui benda-benda upacara. Dipimpin pangeuyeuk, wanita sepuh yang paham tata caranya, ditemani lelaki tua yang membakar kemenyan dan membaca doa.

    Dipimpin: Pangeuyeuk (wanita sepuh), didampingi lelaki tua pembakar ke.

  9. 9.Mapag panganten

    Rombongan pengantin pria disambut di lokasi akad. Ki Lengser memberi tanda kepada panayagan (pemain musik), pager ayu (enam penari), dan punggawa (prajurit penjaga); pager ayu menari sambil menabur bunga.

    Dipimpin: Ki Lengser (penetua adat)

Akad / pemberkatan

  1. 10.Akad nikah

    Kedua calon pengantin dikerudungi tudung putih saat ijab, melambangkan penyatuan dua insan yang masih murni. Dihadiri orang tua, saksi, dan petugas KUA; dilanjutkan serah terima mas kawin dan buku nikah.

    Dipimpin: Petugas KUA/penghulu

Resepsi

  1. 11.Sawer panganten

    Dilaksanakan di panyaweran, tempat antara halaman dan rumah. Pengantin duduk dipayungi; wakil orang tua perempuan menyanyikan tembang sawer berisi petuah dan doa sambil menabur beras, kunyit, uang logam, permen, dan sirih.

    Dipimpin: Wakil orang tua pengantin perempuan (panyawer)

  2. 12.Sungkem

    Pengantin bersimpuh memohon maaf dan doa restu kepada orang tua pengantin perempuan, lalu kepada orang tua pengantin pria.

    Dipimpin: Pengantin

  3. 13.Nincak endog

    Pengantin pria menginjak telur di atas tanah hingga pecah bersama elekan, lalu pengantin wanita mencuci kakinya dengan air kendi dan membanting kendi. Dilengkapi sagar tujuh lidi dan pelita tujuh sumbu.

    Dipimpin: Pengantin

  4. 14.Huap lingkung

    Kedua pengantin saling menyuapi, lalu orang tua bergantian menyuapi. Menandai bahwa orang tua tidak lagi mengurus kebutuhan sehari-hari pasangan.

    Dipimpin: Juru rias

Catatan adat

  • Menikah di bulan Safar dihindari (pamali) karena diyakini membawa nasib buruk; sumber menegaskan ini kepercayaan lisan, bukan aturan agama.
  • Sebagian masyarakat masih memegang mitos larangan menikah dengan orang Jawa yang dikaitkan dengan Perang Bubat; sumber menegaskan ini mitos tanpa dasar rasional.
  • Calon pengantin dilarang duduk di depan pintu selama masa pertunangan karena diyakini menjauhkan jodoh.
  • Calon pengantin tidak boleh menjahit baju yang sobek, terutama baju yang dipakai setelah acara lamaran.

Simbol & makna

Siger

Mahkota pengantin wanita — kehormatan, kebijaksanaan, dan bakti kepada orang tua serta leluhur.

Sirih pada Ngeuyeuk Seureuh

Daun sirih dan pinang yang diulek bersama — dua keluarga dijadikan satu sekaligus media nasihat berumah tangga.

Bakakak Hayam

Ayam panggang utuh yang ditarik berdua; yang mendapat bagian besar wajib membaginya — rezeki harus dinikmati bersama.

Nincak Endog & Meuleum Harupat

Telur diinjak = kesiapan menanggung tanggung jawab; membakar lidi = ego dan amarah harus dikendalikan.

Sawer

Beras dan kunyit = kemakmuran serta penolak bala, uang = rezeki, permen = manisnya hidup.

Siap pakai template Sunda?

Daftar gratis, pilih template, isi form, upload foto — undangan tayang dalam hitungan menit.

Mulai gratis