Pratinjau: Tirta Empul

Undangan Adat Bali
Sabtu, 12 Desember 2026
“Om Awighnamastu Namo Siddham.”
Mantra pembuka upacara Hindu Bali
Detail Acara
Sabtu, 12 Desember 2026 · 16.00 WIB
Pura Keluarga
Banjar Dinas, Gianyar
Sabtu, 12 Desember 2026 · 18.00 WIB
Balai Banjar
Desa Adat, Ubud
Menuju Hari Bahagia
Galeri



Kisah Kami
2019
Pertama Bertemu
Kami dipertemukan di bangku kuliah, dimulai dari tugas kelompok yang tak sengaja.
2022
Mulai Berjalan Bersama
Setelah lulus, kami memutuskan untuk saling menguatkan dalam suka dan duka.
2026
Menuju Hari Bahagia
Dengan restu keluarga, kami melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Mempelai
Dengan penuh sukacita, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i untuk hadir di hari bahagia kami.
Mempelai Pria
Putra pertama dariBapak I Wayan Sutedja & Ibu Ni Luh Sari
Mempelai Wanita
Putri kedua dariBapak I Made Astawa & Ibu Ni Ketut Rai
Rangkaian Adat Bali
Pra-acara
Madewasa Ayu
Kedua keluarga bersama-sama menentukan hari baik untuk seluruh rentetan upacara, dari nyedek sampai acara inti, berdasarkan perhitungan ala ayuning dewasa pada kalender (wariga) Bali. Masyarakat Hindu Bali masih menjadikan ala ayuning dewasa sebagai pedoman karena diyakini memengaruhi kelancaran upacara dan kehidupan setelah pernikahan.
Dipimpin: Kedua keluarga, dibantu orang yang memahami wariga/dewasa ay.
Dihadiri: Keluarga inti kedua pihak
Prosesi lamaran. Pihak pria membawa seserahan bernama basan pupur, dimaknai sebagai penghormatan kepada calon pengantin, pengganti air susu ibu, dan pengganti kasih sayang ayah yang merawat mempelai perempuan.
Dipimpin: Utusan/keluarga pihak pria
Dihadiri: Dua keluarga
Calon pengantin perempuan dipersiapkan menyambut kedatangan calon pengantin pria: persiapan mental, doa kepada Ida Sang Hyang Widhi agar dianugerahi kebahagiaan lahir-batin, serta perawatan fisik seperti luluran dan mempercantik diri.
Dipimpin: Keluarga perempuan; pemangku/rohaniwan untuk doa
Dihadiri: Calon pengantin perempuan dan keluarga dekat
Calon pengantin perempuan dijemput keluarga calon pengantin pria menuju kediaman pria. Ia mengenakan pakaian tradisional Bali yang diselimuti kain tipis kuning dari ujung rambut sampai ujung kaki, perlambang siap meninggalkan masa lajang.
Dipimpin: Keluarga pihak pria
Dihadiri: Rombongan penjemput dan keluarga perempuan
Secara harfiah 'membuka pintu'. Utusan pihak pria mengetuk pintu kamar pengantin perempuan, diiringi tembang-tembang Bali sebagai isyarat kedatangan pihak pria, sebelum membawa pengantin menuju rumah.
Dipimpin: Utusan pihak pria
Dihadiri: Rombongan pria dan keluarga perempuan
Ungkapan selamat datang sebelum kedua pengantin masuk rumah pengantin pria. Kain kuning yang menyelimuti pengantin perempuan dilepas, lalu calon ibu mertua menukarnya dengan uang satakan sebagai harapan menyambut dunia baru.
Dipimpin: Ibu mertua (calon)
Dihadiri: Kedua pengantin dan keluarga pria
Penyucian lahir-batin kedua calon pengantin, terutama pada sukla swanita, agar kelak menghasilkan janin suputra. Rangkaiannya: puja astuti, membakar tetimpug, menghadap banten pabyakalaan, pengelukatan, mengelilingi banten pesaksian, dan medagang-dagangan.
Dipimpin: Pemangku/rohaniwan
Dihadiri: Kedua calon pengantin dan keluarga
Akad / pemberkatan
Kedua calon pengantin bersembahyang di merajan atau sanggah keluarga pria. Maknanya menyampaikan kepada leluhur bahwa ada pendatang baru dalam keluarga, sekaligus menandai sahnya pernikahan di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, adat, dan masyarakat. Pada tradisi Hindu Bali inilah pengesahan religius pernikahan (padanan akad).
Dipimpin: Pemangku sanggah, sulinggih, atau ida pedanda
Dihadiri: Kedua pengantin, keluarga besar, dan rohaniwan
Resepsi
Sumber yang dirujuk merinci upacara adat sampai mejauman, tetapi tidak memberi nama tahap khusus untuk resepsi. Dalam praktik, hajatan/resepsi digelar terpisah dari upacara inti; nama dan urutannya berbeda antardaerah di Bali, sebagaimana ditegaskan bahwa tiap daerah memiliki upacara tambahan yang berbeda.
Dipimpin: Keluarga penyelenggara
Dihadiri: Keluarga, kerabat, dan tamu undangan
Pasca-acara
Kedua pengantin bersembahyang di merajan/sanggah keluarga perempuan sebagai isyarat berpamitan pengantin perempuan kepada leluhurnya, karena ia sudah menikah dan mengikuti keluarga pria. Banten yang dipakai antara lain alem, ketipat bantal, sumping, cerorot, apem, kuskus, wajik, kekupa, aneka buah, dan lauk khas Bali.
Dipimpin: Pemangku/rohaniwan keluarga perempuan
Dihadiri: Kedua pengantin dan keluarga perempuan
Busana AdatPayas Agung putri: gelungan petitis emas, garuda mungkur, kalung badong, kamen sabuk prada · Payas Agung putra: gelung/tajuk emas (geruda mungkur), kampuh, keris, bros besar · Payas Madya: kamben, kancrik, udeng · Payas Alit (paling sederhana) · Kamen dan sabuk prada
IringanGamelan Gong Kebyar (gangsa, gong, kendang, suling) · Rindik — bilah bambu untuk penyambutan tamu
Simbol & Makna
Poleng
Kotak-kotak hitam-putih — konsep Rwa Bhineda: dua hal berlawanan yang harmonis menciptakan keseimbangan.
Endek
Tenun ikat Bali; motif Patra dan Encak Saji dahulu hanya untuk bangsawan dan upacara keagamaan.
Gringsing
Tenun ikat ganda Tenganan: 'gring' (sakit) + 'sing' (tidak) = penolak bala, dipakai dalam upacara termasuk pernikahan.
Prada
Kain/kemasan benang emas — kemuliaan dan kehormatan pada upacara besar.
Live Streaming
Bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang berhalangan hadir, rangkaian acara dapat disaksikan secara langsung melalui YouTube.
Sabtu, 12 Desember 2026 · 16.00 WIB
Gabung Live StreamingTautan aktif 15 menit sebelum acara dimulai.
Amplop Digital
Doa restu Anda sudah sangat berarti bagi kami. Namun jika ingin memberi tanda kasih:
Bank
BCA
1234567890
a.n. Budi Santoso
E-Wallet
GoPay
081234567890
a.n. Sinta Dewi
Kirim kado ke: Jl. Melati No. 12, Jakarta (a.n. Sinta Dewi)
Turut Mengundang
Terima Kasih
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan doa restu.
Matur suksma
terima kasih
Om Santih Santih Santih Om
Budi Santoso & Sinta Dewi
Dibuat dengan MomenIndahUndangan pernikahan digital